Rabu, 25 Maret 2026
Memohon maaf, karena sadar kekurangan diri. Bukan karena budaya lebaran.
Senin, 23 Maret 2026
Sinopsis Novel "RAHMAH EL YUNUSIYYAH - Perempuan yang Mendahului Zaman"
Gambar 1 Sumber : https://www.instagram.com/p/DUA791sEq4y/
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Hai temen-temen, malem ini aku mau sharing sinopsis novel yang udah aku baca beberapa waktu yang lalu. Judulnya "RAHMAH EL YUNUSIYYAH Perempuan yang Mendahului Zaman"
Buku ini di tulis oleh Khairul Jasmi, seorang budayawan, sastrawan dan wartawan Sumatera Barat. Buku ini di terbitkan tahun 2026. Jadi buku ini memang baru ya. Karena aku terima tanggal 02 Maret 2026 pemberian dari sahabat aku, daaan baru selesai aku baca tanggal 22 Maret 2026. Padahal bacanya cuman butuh waktu beberapa hari aja. Tapi sering ke distract. Xixixixixi....
Eits, tunggu dulu, ternyata eh ternyata, setelah aku cari gambar covernya di mesin pencarian Google. Novel ini tuh udah pernah terbit di tahun 2020. Tepat di 6 tahun lalu, dengan cover yang beda. Jadi, yang aku baca ini sebenernya tuh, kayak edisi revisi apa ya? Tapi di deskripsi bukunya gak ada keterangan itu juga sih. So what lah ya, kita fokus ke isinya aja.
***
Judul : RAHMAH EL YUNUSIYYAH - Peremoua yang Mendahului Zaman
Penulis : Khairul Jasmi
Penerbit : PT Elex Media Komputerindo
Tahun Terbit : 2026
Buku ini berkisah tentang perjuangan seorang perempuan di salah satu kota terkecil di Indonesia, yang berada di Provins Sumatera Barat, kota kecil itu bernama Padang Panjang. Jangan dikira sama dengan Kota Padang ya, Jarak keduanya berkisar 77 km.
Tersebutlah seorang perempuan terlahir di tengah keluarga tokoh ternama di kota itu, Muhammad Yunus Al-Khalidiyah. Bersaudarakan satu kakak laki-laki yang merupakan sulung keluarga itu, dan ketiga kakak lain yang merupakan perempuan. Jadilah bayi itu bungsu dari 5 bersaudara. Ia diberi nama Rahma. Ibunya, Rafiah melahirkan anak bungsunya itu di hari Sabtu, tanggal 20 Desember 1900.
Garis hidupnya tidak seperti orang biasa, penuh haru dan aral melintang. Ayahnya, Buya yang disapa oleh ke-lima anaknya wafat saat Rahma berusia 6 tahun. Dibesarkan oleh adat bahwa tradisi menikahkan anak dengan ukama adalah bagian terbaik dalam kehidupan yang harus dilalui. Pada usia 16 tahun, ia dinikahkan dengan seorang laki-laki bernama Bahauddin. Yang tak lain adalah kawan dari kakaknya yang bernama Zainuddin. Bahauddin adalah anak ulama bernama Syekh Abdul Latief. Padahal saat itu,Rahma sedang belajar di Diniyyah School, sekolah yang didirikan oleh kakaknya sendiri pada tanggal 10 Oktober 1915.
Waktu berjalan, arah hidup berseberangan, Rahma fokus pada pendidikan sedangkan Bahauddin Latief lebih memilih arah pergerakkan. Mereka bercerai di usia 6 tahun pernikahan. Tanpa keturunan.
Selepas menjadi janda, atas dasar kegelishan karena perempuan di masa itu harus tunduk patuh jika di nikahkan. Belum lagi budaya yang beranggapan jika beristeri lebih dari satu adalah simbol kesuksesan. Peristiwa kawin-cerai marak terjadi di masa itu. Perempuan seperti alat komoditi pemuas nafsu birahi. Tepat di tanggal 01 November 2023, dengan memohon restu dari Kakak dan Ibundanya, Rahma mendirikan sekolah khusus perempuan, yang ia beri nama Almadrasatud Diniyyah Lil Banaat, yang kemudian berubah menjadi Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Diniyyah Puteri baru mulai merangkak, Kakaknya Etek Amah (Begitu Rahma dikenal kemudian) yang menjadi tempatnya mengadu, wafat diusianya ke-34 tahun. Sedih bukan main, namun kapal telah berlayar, pantang surut kebelakang. Diniyyah Puteri, sekolah khusus perempuan ini harus tetap berdiri kokoh tanpa bantuan dari pihak manapun.
Bak, ayam betina yang berkokok, demi tegakknya bangunan Diniyyah Puteri, ia pergi berbagai tempat, untuk mencari dana. Berbagai hal ia lakukan, mengenalkan bahwa telah didirikan sekolah khusus perempuan, yang padahal nama Diniyyah Puteri telah mahsyur ke berbagai tempat. Ia isi pengajian, bayarannya ia kirimkan ke kampung halamannya, bertuliskan "Untuk pembangunan Diniyyah Puteri". Demikian perjalanannya hingga ia kembali pada masa 3 tahun lamanya.
Saat itu, Indonesia sedang di jajah Belanda. Sekolah Etek Amah menjadi sorotan karena dinilai akan melahirkan generasi-generasi yang mengancam eksistensi Belanda. Belanda merayu dengan halus, hendak memberi bantuan bangunan, namun di tolak oleh Etek Amah. Perjalanan Diniyyah Puteri tidaklah mudah. Bangunannya pernah roboh karena gempa yang mengguncang pada Senin, 28 Juni 1926.
Etek Amah kembali mencari bantuan. Selepas di jajah Belanda, Indonesia di jajah oleh Jepang. Tercatat sejarah hanya 3,5 tahun lamanya, namun perihnya di jajah Jepang di luar nalar. Perempuan-perempuan di kumpulkan untuk melayani birahi tentara Jepang. Rumah kuning begitu disebutnya , tempat perempuan-perempuan "disewa" untuk mmenuhi syahwat para serdadu. Kemana uangnya? Jelas untuk mucikari di zamannya. Sejarah mencatat bagaimana Rahmah El Yunusiyyah mendatangi markas Jepang dan membebaskan para wanita Minangkabau yang diculik saat itu. Bukan satu dua peremuan. Namun jumlahnya sangat banyak. Atas pertolongan Allah, mereka semua di bebaskan. Alhasil Jepang mendatangkan wanita-wanita dari Singapura.
Rahmah El Yunusiyyah, namanya tersohor hingga ke Negeri Johor. Bahkan muridnya banyak yang dari luar kota bahkan dari Malaysia. Tahun 1945 Indonesia merdeka. Diniyyah Puteri yang pertama mengibarkan bendera di Padang Panjang. Kisah pejuangan Etek Amah tidak bearhenti pada pendidikan, saat Belanda datang kembali Etek Amah jadi panglima perang. Beliau yang memimpin perlawanan. Hingga kemudian Beliau sempat ikut berjuang di pemerintahan, tujuannya satu, menyelamatkan pendidikan. Namun sistem di pemerintahan tidak sesuai harapan. Ia kembali mengurusi Diniyyah Puteri.
Ia semakin fokus pada lembaganya, kini lulusannya sudah menjadi orang-orang besar. Tahun 1956 beliau di undang ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Syekh Abdurrahman Taj, Rektor Al-Azhar saat itu menuturkan bahwa nama Al-Azhar yang didirikan tahun 975 masehi itu, di ambil dari nama Puteri Rasulullah SAW, yaitu Fatimah Az-Zahra. Pada undangan itu, Universitas Al-Azhar memberi gelar "Syekhah" ini adalah gelar guru besar pertama untuk perempuan di dunia.
Keilmuan Etek Amah ini, tak sampai di ilmu agama saja, Etek Amah pernah belajar ilmu kedokteran dan kebidanan hingga dikisahkan ia pernah membantu persalinan seorang warga keturunan Cina, hingga saat anak bayi itu tumbuh dewasa dan tahu bagaimana kisahnya di lahirkan, ia masuk islam.
Pengajarannya mencakup banyak hal, tak terkecuali akhlak dan adad. Ia tak sungkan memanggil muridnya yang ketahuan berbusana tembus pandang, atau sengaja tak pakai lilik, sebutan untuk kerudung saat itu. Tahun 1968, kondisinya makin melemah, ia sudah menjadi ibu dan nenek ideologis bagi banyak generasi. Sekalipun tak ada satu pun anak yang dilahirkannya secara biologis, namun namanya terkenang sebagai ibu pendidikan, yang melahirkan pwrempuan-perempuan yang berwawasan dan beradab mulia. Tahun 1967 ia mengidap kanker payudara. Kini ia semakin renta, sisa hidupnya, ia habiskan di Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Perjalanannya mengukir sejarah pendidikan, tetap terkenang walau nafasnya terhenti di usinya ke - 70 tahun. Gerimis mengiringi pemakamannya, seolah bumi ikut menangisi kepergiannya. Rahmah El Yunusiyyah, namanya tetap hidup sepanjang zaman. Hingga saat ini gedung sekolah Diniyyah Puteri berdiri semakin kokoh dan semakin gagah. Pada Juli 2024, Diniyyah memperoleh Syahadah Mu'adalah dari Al-Azhar Asy Syarif, Mesir; yang memungkinkan siswa lulusannya melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar tanpa melewati seleksi yang dilakukan oleh kementerian agama (wikipedia-pen.).
Sekian.
MaasyaAllah
Alhamdulillah.

.png)