Rabu, 25 Maret 2026

Memohon maaf, karena sadar kekurangan diri. Bukan karena budaya lebaran.

Tadi pagi, dari Cipanas, aku bertolak ke Cianjur, hendak halaqoh (pengajian). Jadwal hari Ahad, di tarik lebih awal karena Ustadzahnya ada halangan di jadwal yang seharusnya.

+- 2 km lagi sampai di tempat tujuan. Tapi, aku menepi, mengambil ponsel pintarku, Menghubungi temanku yang aku kira, akan ku jemput untuk halaqoh. Ternyata panggilanku tidak bersambut.

Aku lihat, ada 3 panggilan tidak terjawab dari nomor anakku. Aku telpon balik... Tapi tak ada suara diseberang sana. Ku lihat layar, sudah menunjukkan detik demi detik panggilan. 
"Assalamu'alaikum a, hallo a??"

"Ini Abi" jawab orang di seberang sana. 
Hm.. suara orang dewasa itu tak asing bagiku.

"Oh ya, ada apa bi?"
Tanyaku, tumben ia nelpon, menggunakan hp yang biasa di gunakan anakku pula.

Ia sampaikan bahwa anak-anak sedang berenang, ia akan kembali berangkat bekerja ke Jawa Timur. Intinya anak-anak akan di antarkan ke rumah orang tuaku.
Saya jawab, saya di Cianjur, kalau bisa anak-anak besok saja di antar ke rumah Gadognya (rumah orang tuaku).

Hari Sabtu, 21 Maret 2026 bagi sebagian besar umat muslim di Indonesia, adalah hari raya Iedul Fitri. Saya sendiri, merayakan Iedul Fitri lebih awal, karena mengikuti perhitungan rukyat global.

Hari itu, mantan suamiku membawa anak-anak menemuiku. Alhamdulillah..

Tapi tak sepatah katapun aku mengucap mohon maaf. Aku tidak mau, jika permohonan maafku hanya sebatas budaya di hari raya. 

Kami bertemu tak lama. Anak-anak langsung aku silakan pulang kembali. Karena aku tahu, setelah dzuhur adalah jadwal berkumpul di rumah kakek mereka yang tinggal di Lanbau. Begitu setiap lebaran di keluarga ayahnya anak-anakku.

Telepon itu masih berlangsung, 
Aku kira ini kesempatan memohon maaf.
Aku ingat bagaimana aku mengasuh anak-anaknya. Tidak selalu sabar. Tidak selalu lembut, dan pasti mungkin tidak sesuai harapannya.
"Minal Aidin wal Faidzin" ucapku.

Cukup kaget, saat ia langsung menjawab
"Mohon maaf lahir dan bathin ya, Abi mau berangkat lagi, maaf titip anak-anak" jawabnya.

"Iya" ucapku.
"Udah dulu ya, ini mau jalan lagi" sambungku.

Akupun menutup panggilan, dengan salam.

10 menit kemudian, aku sampai di tempat tujuan TK QURANIKIDS.

Disana teman-temanku belum datang. Aku buka lagi ponselku. Ada panggilan lagi dari anakku. Aku panggil kembali.
"Iya Abi, ada apa?" Aku yakin yang memanggil itu mantan suamiku.
"Dede kan kemarin berobat, ada antibiotiknya, tolong nanti kasih sampai habis ya. Mohon maaf lahir bathin ya"
"Oh iya insyaAllah, hati-hati" sambungku.

Aku kaget juga.. 2x dia sampaikan mohon maaf lahir bathin. Bukan apa-apa dan tidak ada spekulasi apa-apa. Hanya merasa heran ucapanaaf Adri orang yang pernah menjadi jalan aku sakit hati begitu dalam. 

Izin.. hehehe.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar