Rabu, 25 Maret 2026

Memohon maaf, karena sadar kekurangan diri. Bukan karena budaya lebaran.

Tadi pagi, dari Cipanas, aku bertolak ke Cianjur, hendak halaqoh (pengajian). Jadwal hari Ahad, di tarik lebih awal karena Ustadzahnya ada halangan di jadwal yang seharusnya.

+- 2 km lagi sampai di tempat tujuan. Tapi, aku menepi, mengambil ponsel pintarku, Menghubungi temanku yang aku kira, akan ku jemput untuk halaqoh. Ternyata panggilanku tidak bersambut.

Aku lihat, ada 3 panggilan tidak terjawab dari nomor anakku. Aku telpon balik... Tapi tak ada suara diseberang sana. Ku lihat layar, sudah menunjukkan detik demi detik panggilan. 
"Assalamu'alaikum a, hallo a??"

"Ini Abi" jawab orang di seberang sana. 
Hm.. suara orang dewasa itu tak asing bagiku.

"Oh ya, ada apa bi?"
Tanyaku, tumben ia nelpon, menggunakan hp yang biasa di gunakan anakku pula.

Ia sampaikan bahwa anak-anak sedang berenang, ia akan kembali berangkat bekerja ke Jawa Timur. Intinya anak-anak akan di antarkan ke rumah orang tuaku.
Saya jawab, saya di Cianjur, kalau bisa anak-anak besok saja di antar ke rumah Gadognya (rumah orang tuaku).

Hari Sabtu, 21 Maret 2026 bagi sebagian besar umat muslim di Indonesia, adalah hari raya Iedul Fitri. Saya sendiri, merayakan Iedul Fitri lebih awal, karena mengikuti perhitungan rukyat global.

Hari itu, mantan suamiku membawa anak-anak menemuiku. Alhamdulillah..

Tapi tak sepatah katapun aku mengucap mohon maaf. Aku tidak mau, jika permohonan maafku hanya sebatas budaya di hari raya. 

Kami bertemu tak lama. Anak-anak langsung aku silakan pulang kembali. Karena aku tahu, setelah dzuhur adalah jadwal berkumpul di rumah kakek mereka yang tinggal di Lanbau. Begitu setiap lebaran di keluarga ayahnya anak-anakku.

Telepon itu masih berlangsung, 
Aku kira ini kesempatan memohon maaf.
Aku ingat bagaimana aku mengasuh anak-anaknya. Tidak selalu sabar. Tidak selalu lembut, dan pasti mungkin tidak sesuai harapannya.
"Minal Aidin wal Faidzin" ucapku.

Cukup kaget, saat ia langsung menjawab
"Mohon maaf lahir dan bathin ya, Abi mau berangkat lagi, maaf titip anak-anak" jawabnya.

"Iya" ucapku.
"Udah dulu ya, ini mau jalan lagi" sambungku.

Akupun menutup panggilan, dengan salam.

10 menit kemudian, aku sampai di tempat tujuan TK QURANIKIDS.

Disana teman-temanku belum datang. Aku buka lagi ponselku. Ada panggilan lagi dari anakku. Aku panggil kembali.
"Iya Abi, ada apa?" Aku yakin yang memanggil itu mantan suamiku.
"Dede kan kemarin berobat, ada antibiotiknya, tolong nanti kasih sampai habis ya. Mohon maaf lahir bathin ya"
"Oh iya insyaAllah, hati-hati" sambungku.

Aku kaget juga.. 2x dia sampaikan mohon maaf lahir bathin. Bukan apa-apa dan tidak ada spekulasi apa-apa. Hanya merasa heran ucapanaaf Adri orang yang pernah menjadi jalan aku sakit hati begitu dalam. 

Izin.. hehehe.. 

Senin, 23 Maret 2026

Sinopsis Novel "RAHMAH EL YUNUSIYYAH - Perempuan yang Mendahului Zaman"


Gambar 1 Sumber : https://www.instagram.com/p/DUA791sEq4y/


Gambar 2 : https://id.wikipedia.org/wiki/Perguruan_Diniyyah_Puteri_Padang_Panjang


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Hai temen-temen, malem ini aku mau sharing sinopsis novel yang udah aku baca beberapa waktu yang lalu. Judulnya "RAHMAH EL YUNUSIYYAH Perempuan yang Mendahului Zaman"

Buku ini di tulis oleh Khairul Jasmi, seorang budayawan, sastrawan dan wartawan Sumatera Barat. Buku ini di terbitkan tahun 2026. Jadi buku ini memang baru ya. Karena aku terima tanggal 02 Maret 2026 pemberian dari sahabat aku, daaan baru selesai aku baca tanggal 22 Maret 2026. Padahal bacanya cuman butuh waktu beberapa hari aja. Tapi sering ke distract. Xixixixixi....

Eits, tunggu dulu, ternyata eh ternyata, setelah aku cari gambar covernya di mesin pencarian Google. Novel ini tuh udah pernah terbit di tahun 2020. Tepat di 6 tahun lalu, dengan cover yang beda. Jadi, yang aku baca ini sebenernya tuh, kayak edisi revisi apa ya? Tapi di deskripsi bukunya gak ada keterangan itu juga sih. So what lah ya, kita fokus ke isinya aja. 

***

Judul                : RAHMAH EL YUNUSIYYAH - Peremoua yang Mendahului Zaman

Penulis             : Khairul Jasmi

Penerbit            : PT Elex Media Komputerindo

Tahun Terbit     : 2026

Buku ini berkisah tentang perjuangan seorang perempuan di salah satu kota terkecil di Indonesia, yang berada di Provins Sumatera Barat, kota kecil itu bernama Padang Panjang. Jangan dikira sama dengan Kota Padang ya, Jarak keduanya berkisar 77 km.

Tersebutlah seorang perempuan terlahir di tengah keluarga tokoh ternama di kota itu, Muhammad Yunus Al-Khalidiyah. Bersaudarakan satu kakak laki-laki yang merupakan sulung keluarga itu, dan ketiga kakak lain yang merupakan perempuan. Jadilah bayi itu bungsu dari 5 bersaudara. Ia diberi nama Rahma. Ibunya, Rafiah melahirkan anak bungsunya itu di hari Sabtu, tanggal 20 Desember 1900. 

Garis hidupnya tidak seperti orang biasa, penuh haru dan aral melintang. Ayahnya, Buya yang disapa oleh ke-lima anaknya wafat saat Rahma berusia 6 tahun. Dibesarkan oleh adat bahwa tradisi menikahkan anak dengan ukama adalah bagian terbaik dalam kehidupan yang harus dilalui. Pada usia 16 tahun, ia dinikahkan dengan seorang laki-laki bernama Bahauddin. Yang tak lain adalah kawan dari kakaknya yang bernama Zainuddin. Bahauddin adalah anak ulama bernama Syekh Abdul Latief. Padahal saat itu,Rahma sedang belajar di Diniyyah School, sekolah yang didirikan oleh kakaknya sendiri pada tanggal 10 Oktober 1915.

Waktu berjalan, arah hidup berseberangan, Rahma fokus pada pendidikan sedangkan Bahauddin Latief lebih memilih arah pergerakkan. Mereka bercerai di usia 6 tahun pernikahan. Tanpa keturunan.

Selepas menjadi janda, atas dasar kegelishan karena perempuan di masa itu harus tunduk patuh jika di nikahkan. Belum lagi budaya yang beranggapan jika beristeri lebih dari satu adalah simbol kesuksesan. Peristiwa kawin-cerai marak terjadi di masa itu. Perempuan seperti alat komoditi pemuas nafsu birahi.  Tepat di tanggal 01 November 2023, dengan memohon restu dari Kakak dan Ibundanya, Rahma mendirikan sekolah khusus perempuan, yang ia beri nama Almadrasatud Diniyyah Lil Banaat, yang kemudian berubah menjadi Diniyyah Puteri Padang Panjang. 

Diniyyah Puteri baru mulai merangkak, Kakaknya Etek Amah (Begitu Rahma dikenal kemudian) yang menjadi tempatnya mengadu, wafat diusianya ke-34 tahun. Sedih bukan main, namun kapal telah berlayar, pantang surut kebelakang. Diniyyah Puteri, sekolah khusus perempuan ini harus tetap berdiri kokoh tanpa bantuan dari pihak manapun.

Bak, ayam betina yang berkokok, demi tegakknya bangunan Diniyyah Puteri, ia pergi berbagai tempat, untuk mencari dana. Berbagai hal ia lakukan, mengenalkan bahwa telah didirikan sekolah khusus perempuan, yang padahal nama Diniyyah Puteri telah mahsyur  ke berbagai tempat. Ia isi pengajian, bayarannya ia kirimkan ke kampung halamannya, bertuliskan "Untuk pembangunan Diniyyah Puteri". Demikian perjalanannya hingga ia kembali pada masa 3 tahun lamanya. 

Saat itu, Indonesia sedang di jajah Belanda. Sekolah Etek Amah menjadi sorotan karena dinilai akan melahirkan generasi-generasi yang mengancam eksistensi Belanda. Belanda merayu dengan halus, hendak memberi bantuan bangunan, namun di tolak oleh Etek Amah. Perjalanan Diniyyah Puteri tidaklah mudah. Bangunannya pernah roboh karena gempa yang mengguncang pada Senin, 28 Juni 1926. 

Etek Amah kembali mencari bantuan. Selepas di jajah Belanda, Indonesia di jajah oleh Jepang. Tercatat sejarah hanya 3,5 tahun lamanya, namun perihnya di jajah Jepang di luar nalar. Perempuan-perempuan di kumpulkan untuk melayani birahi tentara Jepang. Rumah kuning begitu disebutnya , tempat perempuan-perempuan "disewa" untuk mmenuhi syahwat para serdadu. Kemana uangnya? Jelas untuk mucikari di zamannya. Sejarah mencatat  bagaimana Rahmah El Yunusiyyah mendatangi markas Jepang dan membebaskan para wanita Minangkabau yang diculik saat itu. Bukan satu dua peremuan. Namun jumlahnya sangat banyak. Atas pertolongan Allah, mereka semua di bebaskan. Alhasil Jepang mendatangkan wanita-wanita dari Singapura.

Rahmah El Yunusiyyah, namanya tersohor hingga ke Negeri Johor. Bahkan muridnya banyak yang dari luar kota bahkan dari Malaysia. Tahun 1945 Indonesia merdeka. Diniyyah Puteri yang pertama mengibarkan bendera di Padang Panjang. Kisah pejuangan Etek Amah tidak bearhenti pada pendidikan, saat Belanda datang kembali Etek Amah jadi panglima perang. Beliau yang memimpin perlawanan. Hingga kemudian Beliau sempat ikut berjuang di pemerintahan, tujuannya satu, menyelamatkan pendidikan. Namun sistem di pemerintahan tidak sesuai harapan. Ia kembali mengurusi Diniyyah Puteri.  

Ia semakin fokus pada lembaganya, kini lulusannya sudah menjadi orang-orang besar. Tahun 1956 beliau di undang ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Syekh Abdurrahman Taj, Rektor Al-Azhar saat itu menuturkan bahwa nama Al-Azhar yang didirikan tahun 975 masehi itu, di ambil dari nama Puteri Rasulullah SAW, yaitu Fatimah Az-Zahra. Pada undangan itu, Universitas Al-Azhar memberi gelar "Syekhah" ini adalah gelar guru besar pertama untuk perempuan di dunia. 

Keilmuan Etek Amah ini, tak sampai di ilmu agama saja, Etek Amah pernah belajar ilmu kedokteran dan kebidanan hingga dikisahkan ia pernah membantu persalinan seorang warga keturunan Cina, hingga saat anak bayi itu tumbuh dewasa dan tahu bagaimana kisahnya di lahirkan, ia masuk islam.

Pengajarannya mencakup banyak hal, tak terkecuali akhlak dan adad. Ia tak sungkan memanggil muridnya yang ketahuan berbusana tembus pandang, atau sengaja tak pakai lilik, sebutan untuk kerudung saat itu. Tahun 1968, kondisinya makin melemah, ia sudah menjadi ibu dan nenek ideologis bagi banyak generasi. Sekalipun tak ada satu pun anak yang dilahirkannya secara biologis, namun namanya terkenang sebagai ibu pendidikan, yang melahirkan pwrempuan-perempuan yang berwawasan dan beradab mulia. Tahun 1967 ia mengidap kanker payudara. Kini ia semakin renta, sisa hidupnya, ia habiskan di Diniyyah Puteri Padang Panjang.

Perjalanannya mengukir sejarah pendidikan, tetap terkenang walau nafasnya terhenti di usinya ke - 70 tahun.  Gerimis mengiringi pemakamannya, seolah bumi ikut menangisi kepergiannya. Rahmah El Yunusiyyah, namanya tetap hidup sepanjang zaman. Hingga saat ini gedung sekolah Diniyyah Puteri berdiri semakin kokoh dan semakin gagah. Pada Juli 2024, Diniyyah memperoleh Syahadah Mu'adalah dari Al-Azhar Asy Syarif, Mesir; yang memungkinkan siswa lulusannya melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar tanpa melewati seleksi yang dilakukan oleh kementerian agama (wikipedia-pen.).

Sekian.

MaasyaAllah

Alhamdulillah.

Jumat, 27 Februari 2026

Mata Kuliah : Sejarah Perkembangan Islam

Pertemuan 1 - SPI - Bpk. M. Toha
Jum'at 27 Februari 2026

Tugas I :
Individu
Membuat Catatan mengenai sejarah manusia & agama.
dikumpulkan pada pertemuan ke-2 (Jum'at, 06 Maret 2026)

Tugas II
Kelompok
Membuat makalah dalam bentuk pdf
Dikumpulkan pada pertemuan ke-3 (kemungkinan setelah libur Iedul Fitri) 

Pembagian Kelompoknya :
Kelompok 1 (Sejarah Para Tuhan kaum Nabi Nuh & Sejarah agama Ibrahim)
Rika, Sri, Rahma, Erwin, Ashof

Kelompok 2 (Sejarah Agama Isa & Musa)
M. Hasan, Dwi, Rifatul Alawi, Ihda

Kelompok 3 (Arab Pra Islam & Sejarah Islam pada Masa Khulafaurrasyidin)
Indri, Sahla, Dini, Naseh, Dian

Kelompok 4 (Masa Khulafaurrasyidin)
Hendi, Siti Aminah, Susanti, Mira, Jamaludin

Kelompok 5 (Masa Muawiyah Timur & Andalusia)
Noneng, Andi, Alya, Linda, M. Khalid

Kamis, 22 Januari 2026

Resume Seminar Ilmu Kalam "Mengkritisi Aliran-aliran Kalam di Indonesia" - STIT AL-Azami Cianjur

 


Artikel/Resume : Seminar Ilmu Kalam

"Mengkritisi Aliran-aliran Kalam di Indonesia"

 

Assalaamu’alaiakum warahmatullaahi wabarakaatuh

Hallo teman-teman, terimakasih ya sudah berkunjung ke blog saya.

 

Hari ini saya mau berbagi pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan dari Seminar Ilmu Kalam yang saya ikuti di kampus saya tercinta. Yaitu STIT AL-Azami Cianjur.

Seminar ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 10 bulan Januari tahun 2026.

 

Narasumber : Dr. Supratman Agus Wibowo, M. Pd.

Moderator : Dr. Gilang A. Faresi, M. Pd.

Dosen Pengampu : Dr. Siska Amalia, M. Pd.

Ketua Panitia : Fawwaz M. Solahudin

 

🌱

Catatan:

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Berikut saya tuliskan apa yang saya dapat dari Narasumber Seminar.

A.     Pengantar (sebelum pembahasan pokok)

Syarat kesuksesan :

1.     Rakus dengan ilmu, lahap segala macam ilmu yg bermanfaat

2.     Sabar dengan Guru/dosen

3.     Belajar dengan waktu yang panjang

 

Milikilah keinginan yang kuat untuk sukses. Kenyamlah pendidikan S1 - S2 bahkan S3.

Narasumber juga berpesan, sekalipun kuliah di PTN memiliki prestise yang lebih tinggi, namun kita pun yang berkuliah di STIT, harus memiliki kepercayaan diri yang kuat.

 

B.     Pembahasan Pokok :

Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu keislaman mengenai aqidah dengan pendekatan rasional dan tekstual.

 

1.     Sumber hukum (tekstual) :

a.      Al-Qur'an

b.     Hadits

c.      Kesepakatan Ulama (Ijma' & Qiyas)

 

2.     Penyebab Munculnya Berbagai Aliran

a.      Konflik politik awal Islam

Dalam politik dikenal istilah “Tidak ada persahabatan abadi, tidak ada musuh abadi, namun kepentingan yang abadi, dan kepentingan itu yang layak diikuti”

Lord Pamelson, PM Inggris Abad ke -19 M.

 

Awal mula terbentuknya aliran Kalam adalah adanya konflik politik awal Islam. Dimana,  Kelompok Muawiyah yang bermarkas di Suriah (Syam) menginginkan Sayyidina Ali sebagai Khalifah saat itu, segera menghukum pembunuh Utsman bin Affan.

 

Sedangkan Sayyidina Ali yang bermarkas di Kuffah, memilih untuk menstabilkan negara terlebih dahulu.

 

Dikarenakan ada perbedaan pendapat ini, dan adanya hasutan, maka terjadilah Perang Siffin.

Ini adalah perang saudara pertama dalam sejarah Islam.

 

Ditengah kobaran perang, Kelompok Muawwiyah yang diwakili oleh Amr bin Ash mengusulkan agar menancapkan Al-Qur'an diatas tombak, sebagai isyarat arbitrase yaitu menyerahkan perselisihan 2 kelompok dengan menunjuk 1 orang sebagai hakim atau pada saat itu disebut tahkim yang saat itu yang dimaksud pemutus perselisihan adalah Al-Qur'an.

 

Kelompok Ali yang diwakili oleh Abu Musa Al-Asy'ari menyetujui hal itu dan segera menghentikan peperangan.

 

Namun, sebagian orang di kubu Ali menganggap bahwa Al-Qur'an tidak bisa diganggu gugat dan tidak bisa di diskusikan. Kekecewaan ini membuat

sebagian orang yg awalnya panatik mendukung Ali akhirnya memisahkan diri dari kubu Ali, yang kemudian disebut kaum Kahawarij.

Ciri khas Kaum Khawarij :

1.    Mudah mengkafirkan yang tidak sejalan dengan mereka.

2.    Menghalalkan darah orang yang dianggap kafir oleh mereka

3.    Memahami Al-Qur'an hanya secara tekstual.

 

Slogan mereka adalah "Laa Hukma Illallah" yang berarti tiada hukum kecuali milik Allah, ini berarti :

1.   Mereka menolak segala bentuk kompromo manusia (seperti arbitrase/tahkim).

2.   Segala keputusan harus diambil dari Al-Qur'an tanpa interpretasi yang luwes.

 

b.     Perbedaan Aliran berdasarkan Penilaian Pelaku Dosa Besar

1.     Khawarij           : Menilai orang yang telah melakukan dosa besar sebagai orang kafir.

2.     Murji’ah             : Tidak sampai menganggap orang yang yang melakukan dosa besar sebagai kafir, tergangung Tuhan yang mengampuni.

3.     Mu’tazilah        : Pemikiran mereka sangat rasional. Pelaku dosa besar posisinya bisa jadi tidak di syurga, tidak pula di neraka.

4.     Ahlussunnah Wal Jama’ah     : Kelompok ini menganggap bahwa, orang yang berdosa tetap di anggap sebagai mukmin. Dosanya hanya dinilai oleh Allah. Azab dari Allah tergantung taubat mereka yang nilai oleh Allah.

 

c.      Perbedaan Aliran berdasarkan pola pikir Takdir & Kehendak Manusia

1.     Jabariyah          : Manusia terpaksa melakukan sesuatu karena segala perbuatan manusia adalah kehendak Tuhan.

2.     Qodariyah        : Manusia merdeka atau bebas melakukan apa saja sesuai kehendak yang mereka inginkan.

Berdasarkan pemikiran aliran-aliran di atas, yang benar adalah setiap perilaku manusia, ada Tuhan yang menentukan. Manusia berusaha melakukan yang terbaik, dan Tuhan yang berkehendak menentukan. Seperti dalam surat Yasin ayat ke- 82.

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٨٢

"Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu."

 

Demikian ilmu yang saya dapatkan dari seminar Ilmu Kalam yang saya ikuti  di STIT Al-Azami, semoga menambah pengetahuan kita serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

 

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

 

 

Rabu, 14 Januari 2026

Resensi Buku

"Sukses itu Bukan Kebetulan"


         


Judul              : How To Master Your Habits

Penulis           : Felix Y. Siauw

Penerbit          : Khilafah Press

Tahun Terbit   : 2012

Tebal buku     : 169 halaman

Buku karya Ustadz Felix Siauw ini adalah buku panduan bagaimana cara meraih kesuksesan dengan melatih habits (kebiasaan-kebiasaan) yang baik setiap harinya. Bahwa kesuksesaan pada dasarnya bisa dilakukan dengan sadar dan bukan suatu kebetulan.

Pilihan kata yang digunakan membuat pembaca ikut bersemangat seolah dapat menangkap energi positif yang di sampaikan penulis dalam karyanya. Buku ini juga memiliki banyak istilah dalam bahasa inggris yang cocok digunakan untuk kaula muda dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Penggunaan  istilah dalam bahasa inggrispun tetap di sertakan dengan terjemahan dalam bahasa indonesia yang mudah di pahami. 

Namun pada buku ini penulis senantiasa mengaitkan kata dakwah, seolah segmentasinya adalah untuk Pembaca Muslim saja, sehingga tidak bersifat umum. Tidak adanya daftar isi pun membuat pembaca tidak dapat melihat sub bab pembahasan secara keseluruhan secara langsung. Pembaca harus membuka-buka halaman per halaman untuk melihat judul per bab nya.

Meskipun buku ini terbit pada tahun 2012 silam, namun buku ini masih relevan untuk menjadi panduan untuk meraih kesuksesan dengan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik, melalui kebiasaan-kebiasaan kecil setiap hari.

Jumat, 27 Juni 2025

Muhasabah ... Akhir Tahun Buku 2014

Bismillah, Laa haula walaa  Quwwata Illaa Billah..


Esok, 25 Desember 2014, adalah pas 11 bulan aku menjabat sebagai Manager di salah satu LKM (BMT) di Kab. Cianjur.

Senang, sedih, gembira, duka, lapang, sempit aku rasakan selama ini. Sebagai kepala cabang di lembaga keuangan, saya kira permasalahan yang timbul selalu pada dua aspek : NPL (Noan Performing Loan) dan SDM (Sumber Daya Manusia) sebagai pelaksana.

Terkadang, aku berfikir, bahkan sempat aku katakan kepada jajaran direksi (cabang maupun pusat - Ketua & Bendahara) bahwa rasanya aku sudah tak mampu melaksanakan tugasku sebagai kepala cabang.
Namun, jawaban dari Bendahara : "Yang menyatakan anda mampu atau tidak adalah orang lain, bukan diri anda sendiri. Teruslah bersemangat mengemban amanah ini."
Ketua di Cabang Kantor ku menjawab : "Kalo kamu resign, bapak ingin tutup saja BMT ini. Bapak sudah percaya 100 %. Yang mengerti tentang teknis peke

Rabu, 01 Juli 2015

Keluarga Cinta

Allahu Akbar... Allahu Akbar..
Adzan dzuhur berkumandang.. saat aku membaca chat dari fasilitas medsos gmail bernama hangout dari suamiku..

Sibuk ya? :(

Terdiam aku membaca pesannya tersebut,
Jiwaku masih terpengaruh dengan sikapnya tadi pagi, dengan kejadian tadi malam, yang diawali kejadian hari kemarin. Saat aku pulang bekerja, aku tak langsung pulang ke rumah mertuaku, adzan maghrib telah berkumandang saat aku melewati daerah metropolis di daerahku, sebut saja, Cimacan. Perjalanan menuju rumah mertuaku masih menghabiskan waktu sekitar 15 sd 20 menit. Batinku terus berkecamuk, "Pulang langsung ke Maleber atau ke Gadog?" berkali - kali pertanyaan dua nama kampung itu terus berputar di kepalaku sembari aku mengendarai motor Honda Revo - 110 berwarna biru, fasilitas inventaris yang di berikan perusahaan tempat aku bekerja. 
Tiba-tiba, perutku menggerutu, Oh tidaaaak.. Perutku terasa begitu lapar. Bagaimana tidak, saat itu adalah hari ke - 13 di Bulan Ramadhan 1436 H. Ku naikkan kecepatan revo biru itu, namun jarum jamnya entah menunjukkan angka berapa, jarum jam merah di speedometer tak mau menggerakan diri karena kabel pendeteksi kecepatannya putus. Aku berfikir lebih keras, aku timbang - timbang baik buruknya bila aku pulang ke Gadog (ruamh kedua orang tuaku) langsung dengan aku pulang ke Maleber (Rumah mertuaku dimana tempat aku tinggal sekarang). 
Aku berfikir, pertama suamiku akan sampai di rumah sekitar pukul 18.40, karena pesan yang ia sampaikan tadi melalui telepon selularku adalah ia lembur 2 jam, kemungkinan buka puasa di perjalanan. Kedua, aku pun membawa uang penarikan nasabahku, yang rumahnya tak jauh dari rumah Orang tuaku, aku ingat bahwa janjiku menyampaikan hari Selasa. maklum aku adalah pegawai BMT, yang sering jam kerjaku melewati batas kerja biasanya, karena urusan pekerjaan yang belum usai (yang karena ini pula sering terjadi kesalahfahaman antara aku dan suamiku), Ketiga adalah baju cucian yang telah aku pak saat hari senin, sekalian akan ku ambil beserta tasbih digital, charger, dan shampoo milik suamiku dan alasan pendukung ke empat adalah perutku keroncongan, menahan lapar dan dahaga sejak fajar menyingsing.

Bulatlah sudah keputusanku untuk segera membelokkan arah ke rumah orang tuaku.

***
"Assalaamu'alaikum..." ucapku membuka pintu rumah.
Terkaget kedua orangtuaku melihat kedatanganku yang tanpa kabar sebelumnya. Sepasang suami istri yang tengah menikmati hidangan berbuka. ya hanya sepasang artinya tak ada pengganggu lagi. Layaknya Romeo dan Juliet hhe... Kedua anak mereka telah menikah dan si bungsu sampai waktu berbuka tiba masih entah dimana mainnya.

Kulihat telpon genggamku, ada beberapa pesan masuk.
dari Mama mertuaku, Papa mertua dan Suamiku.
Lengkap!

Sebelum aku pulang telah ku kirim pesan pada Mamah & Papa :

Assalaamu'alaikum mamah + papap..
maaf teteh ngerjain laporan akhir bulannya belum selesai jadi kayaknya kesorean .. pulang lewat maghrib..
Aa lembur sampai jam 5

Kemudian Mamah mertuaku menjawab, dengan perhatiannya :
Iya, bukanya dimana teteh?

Papa mertuaku menjawab dengan kasih sayangnya
Waalkm salam. Ya. Mamah bikin bala2 + pesmol

Dan terakhir ku baca sms dari suamiku,
Dimana?


firasatku mengatakan suamiku telah sampai lebih dulu di rumah dan itu adalah salah satu hal yang ia benci dari habit ku.

Sekali lagi aku dilema. Aku takut pulang ke rumah. Aku takut suamiku akan marah, meskipun aku tahu betul marahnya adalah diam. Segera ku bereskan segala urusanku di Gadog dan akupun berkemas pulang.

Ku kejar waktu tarawih, nyatanya adzan sudah berkumandang di tengah perjalanan. Menandakan aku tak akan bisa ikut shalat terawih berjamaah. Padahal sunah shalat tarawih adalah berjamaah.

Sampailah aku di halaman rumah nenek dari suamiku, halaman yang di tanami bunga berwarna jingga itu sungguh cantik bila di lihat pagi hari. Segera ku matikan mesin motrku dan ku tekan  kedua kakiku mendorong motor inventaris tersebut.
Benar saja jamaah ibu-ibu yang ada di dalam rumah Emah, begitu kami memanggil nenenk dari sumaiku. Telah berjajar rapih seraya mengucap Aamiin. Aku tertinggal shalat tarawih berjamah, dan mugilah aku malam itu.

Ku parkirkan motor di halaman rumah emah dan ku bergegas menaiki anak tangga menuju rumah mertuaku. Nampak jelas rumah berwarna merah dengan tembok samping di cat hijau itu menyala, di sorot lampu putih yang menempel di atap teras rumah. Rupanya rumah tak di kunci dan ku dapati suamiku tengah duduk dengan kepala menunduk di atas sajadah menghadap kiblat.

Ku sodorkan tanganku menyalaminya, bergegas ku cuci kakiku, ku kenakan mukena putih, seserahan dari suamiku 24 Mei 2015 silam, ku gelarkan sajadah dan berdiri di belakngnya dan kamipun shalat isya berjamaah. Di tengah shalat, ku rasakan kakiku gemetar mungkin karena tumpukkan pekerjaan di kantor yang bertepatan dengan akhir Bulan, dan rekan kerjaku yang tidak masuk selama 7 hari membuat pekerjaanku bertambah, namun di tengah shalat aku berfikir, Ya Allah, jarak tempat kerja suamiku lebih jauh dari jarak anatara rumah dengan tempat ku bekerja, pasti ia rasakan lelah, namun seringkali sesampainya di rumah tak ada aku, istrinya yang seharusnya melayaninya.



Selesai shalat sunah rawatib, raut wajahnya belum berubah, belum ada sunggingan di samping kanan maupun kiri bibir pemuda tampan berusia 23 tahun itu. Masih nampak kekesalan pada istrinya yang hanya terpaut usia 16 bulan ini.

Bila sudah begini aku tak bisa berkata apapun. Diamnya adalah teguran untukku. Kata maaf sudah menjadi langgananku. Tapi sering aku ulangi - ulangi kebiasaanku. Ku katakan kebiasaan karena aku tak mau mengatakan ini kesalahan. Bila sudah begini ego ku muncul. Argumenku meluap dalam hati. Suamiku tahu kesibukanku saat kami masih dalam tahap perkenalan. Aku sering pulang maghrib demi menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Belum lagi kegiatan madrasah, lanjutan kesibukan waktu malam, dan kegiatan belajar mengajar di waktu libur bekerja.
"Harusnya ia bisa mengerti aku! Pekerjaanku mengharuskanku menyelesaikan pekerjaanku di hari yang sama! Belum lagi mengenai piutang bermasalah, dan lain sebagainya!" Berbagai alasan memenangkan egoku! Namun, luluh lagi egoku mengingat nasihat guruku, " Suamimu adalah orang yang haruis kau patuhi perintahnya!"
Kalau sudah begini, jadilah aku orang yang dilematis. Satu sisi pekerjaan satu sisi suami. Namun, terkadang dalam hati kecilku, ingin sekali ia memahami aku lebih ekstra, menghargai karier ku, disambut dengan senyuman saat aku pulang kantor over time, dan lain sebagainya. Menjadi Isteri yang juga bekerja di luar rumah butuh pengertian yang luar biasa dari suami, mulai dari kepercayaan, hingga hal kompleks seperti jam pulang, klien dan lain sebagainya.
Kepercayaan & pengertiaan harus sama-sama dimiliki oleh kedua belah pihak aku kira.

***

Namun, aku harus lebih jauh bersyukur, suamiku adalah orang yang penyabar. Ia tak pernah melontarkan bahasa tajam dalam menegurku, bahkan ia adalah penghibur di saat aku lelah dengan segala guyonan yang ia buat, Ia juga tipikal suami yang romantis, ia sering membuat kejutan, meskipun dari hal - hal yang kecil, membentuk, bantal guling dan selimut di atas kasur menjadi ucapan I Love U adalah hal kecil yang membuat hatiku bahagia saat melihatnya. Aku yang cenderung kaku dan eksak begitu bahagia Allah sandingkan dengan seorang Imam yang humoris, taktis dan romantis. Proses perkenalan samapai menikah yang hanya berlangsung 5 bulan itu, kini menjadi benih - benih cinta yang bersemai di atas tanah yang bernama keluarga.

Daaaan, jauh dari segala masalah apapun yang menerpa kehidupan rumahtangga kami yang saat ini masih berusia jagung, semoga Allah senantiasa membimbing kami dalam kesyukuran, dalam kesabaran, dalam ketaatan dan Allah berkahkan keluarga kami serta menjadikan keluarga kami keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan da'iah.

"Sebaik - baik do'a adalah
Alhamdulillaahirabbik'alamiiin.." - Al- Hadits